7 Pelajaran Penting Dibalik Sakitnya Dewa Eka Prayoga

Silahkan baca sampai habis ya ?

Tulisan ini tadinya akan Saya share di channel telegram saja: https://telegram.me/dewaekaprayoga, tidak akan dishare di Facebook. Tapi ternyata gak muat, gak jadi deh. Hehe..
Begini…
Saya meyakini bahwa di setiap kejadian pasti ada hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil. Begitu pula dengan kejadian yang menempa Saya selama 3 bulan terakhir ini.
Bayangkan saja…
Tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan, badan Saya tiba2 terdampar lemas tidak bisa bergerak seolah kena strooke (awalnya).
Setelah menunggu seharian dan mengikuti serangkaian tes, ternyata penyakit yang Saya derita bernama: GBS (Guillain-Barre Syndrome).
Saya tidak akan menceritakan bagaimana persisnya penyakit tersebut menggerogoti badan Saya hingga 22 kg, namun kali ini Saya ingin sharing tentang pelajaran penting dibalik sakitnya Saya tersebut (dan bisa Anda ambil hikmahnya).
Pertama, Berlebihan itu Tidak Baik.
Saat pertama kali masuk rumah sakit, Saya masih tidak percaya bisa sakit separah itu. Seakan tak menerima qodho dari Allah, Saya mempertanyakan ini.
Bagaimana tidak, makanan sehari-hari Saya jaga, olahraga teratur, minum air banyak, istirahat cukup, dll. Anehnya, kok Saya sakit?  Tiba-tiba dan parah pula sakitnya. Allah ya rabb…
Dokterpun bertanya pada istri Saya, “Ini awalnya gimana?”
Istri Saya pun menjelaskan runutan peristiwa sebelum Saya sakit, “Sebelumnya beliau habis ngisi training di Bogor. Pas besoknya tiba2 tiduran terus, gak bangun2. Dikirain kecapean. Terus Saya bawa ke IGD, tapi kata dokter jaga cuma kecapean. Besoknya Saya perhatiin kok mata kirinya jadi susah ngebuka. Jalanpun jadi lemas. Dan kakinya kesemutan terus. Terus Saya bawa deh ke dokter lagi. Dan sekarang begini..”
Dokter pun berkata, “GBS ini penyakit autoimun. Imunnya terlalu sehat. Mas Dewa ini terlalu sehat, jadi begini…”
Ya Rabby… 
Saya baru tahu, ternyata orang yang terlalu sehat bisa sakit juga. Hehe…
Sejak sebelum nikah, Saya memang orangnya sakit-sakitan. Tapi setelah nikah dan menjaga pola hidup sehat, Saya hampir jarang sakit dan gak pernah masuk rumah sakit. Tapi sekarang, karena terlalu sehat justru malah sakit. Kehendak Allah..
Intinya, jangan terlalu berlebihan. Jujur, Saya orang yang gila olahraga, khususnya fitnes. Dalam seminggu, bisa 5-6x. Padahal 2-3x juga bisa dibilang cukup. Tapi karena terlalu rajin, malah justru terlalu sehat. 
Hati2 Anda.

Istirahat yang cukup.
Kedua, Menabung Sejak Dini.
Saya gak kebayang…
Kalau seandainya Saya dan istri gak punya tabungan, mungkin dokter tidak bisa memberikan tindakan dan pengobatan secepat itu.
Sekedar informasi..
Sejauh ini, obat yang ampuh untuk mengobati GBS ini adalah Plasmapharesis dan Gamaras/Gamonex. Sialnya, dua obat tersebut harganya sangat mahal.
Bayangkan saja…
Plasmapharesis sekali tindakannya menghabiskan biaya Rp 8,5 Juta. Dan waktu itu Saya dilakukan 11 tindakan. Tinggal dikali saja berapa total biayanya.
Itu baru satu. Obat kedua, yaitu Gamonex, menghabiskan biaya Rp 4,5 Juta per botolnya. Dan saat itu Saya menghabiskan 50 botol dalam 3 hari. Tinggal dihitung berapa total biayanya.
Alhasil, total biaya pengobatan saat itu tak kurang dari setengah miliar rupiah (bahkan lebih). Ini belum biaya di masa pemulihan, ah, lumayan pokoknya… 
Kebayang kalau gak nabung, puyengnya minta ampun.
Ada yang tanya, “Kang Dewa emangnya gak pake Asuransi?”
Alhamdulillah, enggak. Saya dan Istri berkomitmen untuk tidak menggunakan Asuransi. Kami berkeyakinan bahwa hukum asuransi itu haram, seperti halnya riba.
Jadi, walaupun Anda memiliki keyakinan tidak akan sakit, sangat penting bagi Anda untuk Menabung agar ketika hal buruk terjadi, Anda gak bingung… Sip?
Ketiga, Doa dan Dukungan Sahabat
Saya sangat bersyukur dan berterimakasih…
Karena Allah membersamai Saya dengan orang2 baik yang luar biasa. Selain keluarga, sahabat2 pun terus mendukung dan mendoakan Saya. 
Tim Saya di Billionaire Store, Kang Mochammad Rizal dan Mas Mirza G. Indralaksana, selalu ada di dekat Saya disaat Saya butuhkan. Gak ada yang bisa membalas kebaikannya kecuali Allah SWT.
Termasuk doa dan dukungan dari Anda…
Begitu banyak doa dan dukungan yang kawan2 sampaikan melalui chat WhatsApp, FB, Telegram, hingga Video2 khusus.
Bahkan beberapa guru Saya seperti Mas J, Mas Ippho, Ustadz Felix Siauw, Mas Fikry, dan masih banyak lagi, rela berkunjung untuk menjenguk langsung dan mendoakan Saya. 
Intinya, doa dan dukungan dari keluarga & sahabat itu sangat penting. Karena itu memberikan energi tersendiri bagi kita yang sedang sakit.
Makanya, perbanyak silaturrahmi dengan kawan selagi sehat. Supaya pas sakit, banyak yang mendoakan dan memberi dukungan. InsyaAllah… 
Keempat, Sabar dan Semangat.
Di saat badan tak bisa bergerak sedikitpun, maka satu2nya obat mujarab selain dzikir dan istighfar adalah sabar.
Ya, kata itu pula yang sering diucapkan oleh orang2 terdekat Saya.
Bayangkan saja… 
7 minggu tiduran dan gak bisa bangun. Makan lewat hidung, mandi di kasur, kencing di kateter, dan (maaf) BAB pun di tempat tidur.
Sabar memang mudah diucapkan, tapi sulit untuk dilakukan. Beruntungnya, kesabaran Anda benar2 diuji saat dalam kondisi seperti itu.
Dan gak hanya sabar, Anda pun harus semangat dan berjuang melawan penyakit Anda. Sadar ga sadar, itu membantu dalam proses penyembuhan.
5. Miliki Istri Sholehah
Nah ini poin penting khusus untuk pria. Kalau Anda wanita, berarti suaminya mesti sholeh.
Kenapa Saya bilang begitu?
Karena untuk membersamai pasangan dalam kondisi sakit seperti ini, diperlukan kesabaran dan ketabahan yang luar biasa.
Saya bisa merasakan perjuangan istri Saya merawat Saya, baik ketika masih di rumah sakit maupun ketika sudah di rumah.
Saya jadi teringat percakapan dokter dengan istri Saya di ruangan ICU. Istri Saya bertanya, “Dok, kalau boleh tahu, selama ini pasien dengan penyakit GBS ada berapa orang di rumah sakit ini?”
Dengan suara cukup lantang, dokter pun berkata, “Oh selama ini ada 3 orang bu…”
Sambil penasaran, istri Saya bertanya kembali, “Terus gimana dok?”
Dokter menjawab, “1 orang lewat (baca: meninggal). 1 orang selamat. 1 orang lagi ya Pak Dewa ini…”
Dalam ruangan tersebut, Saya pun mendengar obrolan mereka. Dala hati Saya bergumam, “Abuset dah, berarti nasib Saya fifty fifty nih…” heu
Tapi bukan itu yang ingin Saya ceritakan pada Anda…
Saat Saya melakukan terapi di ruang atas, seorang fisioterapis cerita ke istri Saya,
“Pak Dewa mah mending ya bu banyak kerabat dan sahabatnya. Ibu juga disini setia nungguin setiap hari. Pasien GBS yang dulu mah sampe2 ditinggal istri dan anaknya, saking gak kuat ngurus suaminya…”
Istri Saya pun terkaget seolah tak percaya. Lalu berkata, “Oh berarti pasien yang selamat ya teh?”
Teteh fisioterapis pun menjawab, “Iya teh, beliau juga sekarang udah sehat. Tapi ya itu, ditinggal pergi istrinya. Kasihan…”
Makanya, memiliki pasangan yang tulus mencintai kita itu sangat penting. Dan yang pasti, ia harus ngerti ilmu agama dan takut sama Allah. Pasti perintah2 Allah dilaksanakan, termasuk membersamai pasangan.
Love u istriku, Wiwin Supiyah.
6. Bangun Sistem Bisnis
Ya, kita harus membangun sistem bisnis.
Kenapa begitu?
Jelas, ketika kita sakit, tapi bisnis kita belum tersistem, dan hanya ketergantungan sama kita, ya bahaya.
Alhamdulillahnya, beberapa bisnis Saya sudah bisa ditinggalkan dan tersistem, karena ada organisasi dan tim yang menjalankannya.
Inilah ujian pengusaha, yakni rela berbagi peran dengan timnya di perusahaan agar bisa jalan terus-terusan.
So, mulai pikirkan untuk mensistemasi bisnis Anda. Jangan terjun langsung sendirian terus. Ingat, Anda ini owner. Tugas Anda adalah memikirkan masa depan bisnis, bukan memikirkan urusan harian bisnis.
7. Menyiapkan Kematian
Saya tidak ingin membahasnya. Silakan persiapkan dengan baik. Karena ajal bisa datang kapan saja.
Demikian tujuh pelajaran penting dibalik sakitnya Saya. Maafkan jika ada kata2 yang salah dan gak nyambung, itu murni kesalahan Saya.
Semoga bermanfaat.
Tidak perlu dishare, kecuali menginspirasi.