Arti Retensi Urin, Etiologi, Klasifikasi, Pemeriksaan dan Penatalaksanaan

ARTI RETENSI – Retensi adalah sebuah homonin karena arti-artinya memiliki ejaan dan pelafalan yang sama, tetapi maknanya berbeda. Namun pada tulisan kali ini kami akan membahas secara khusus mengenai arti retensi urin, yaitu sebuah disfungsi pengosongan kandung kemih.

Retensi urin didefinisikan sebagai ketidakmampuan berkemih, Retensi urin akut adalah ketidakmampuan berkemih tiba-tiba pada keadaan kandung kemih yang membesar, penuh, tidak nyeri dengan atau tanpa kesulitan berkemih. Retensi urin kronis adalah adanya kandung kemih yang membesar seringkali tanpa gejala sulit buang air kecil, disertai buang kecil yang sering inkontinensia, distensi kandung kemih dan kadang-kadang gagal ginjal. Inkontinensia urin adalah pengeluaran urine yang tidak dapat dikontrol dan meneteskan urin dari uretra dengan keadaan kandung kemih penuh.

Penyebabnya ada yang mempengaruhi lumen uretra atau dinding uretra, kompresi uretra atau disfungsi neurologis. Infeksi saluran kemih atau nyeri bisa memicu terjadinya retensi. Retensi urin sering terjadi pada pria manula akibat hiperplasia prostat, walaupun pada dewasa muda bisa terjadi karena penyebab neurologs yang serius sehingga harus dilakukan pemeriksaan penunjang yang seksama.

Pengertian Retensi Urin

arti retensi urin
prostatecanceruk.org

Retensi urin adalah kesulitan berkemih yang diakibatkan oleh kegagalan mengeluarkan urin dari vesika urinaria. Retensi urin merupakan disfungsi pada pengosongan kandung kemih, termasuk untuk membuang air kecil, pancaran pelan atau lemah, atau aliran terputus-putus, perasaan tidak tuntas berkemih dan butuh usaha keras atau dengan penekanan pada suprapubik untuk mengosongkannya.

Etiologi Retensi Urin

Etiologi Retensi Urin
healthtap.com

Retensi urin dapat dibedakan berdasarkan tempat kerusakan syaraf:

  1. Supravesikal
    Yakni kerusakan di pusat miksi pada medulla spinalis sakralis S2–S4 setinggi Th1 – L1. Kerusakan terjadi di saraf simpatis dan parasimpatis baik sebagian maupun seluruhnya.
  2. Vesikal
    Yaitu kelemahan otot destrusor disebabkan lama meregang, berkaitan dengan masa kehamilan dan proses persalinan (trauma obstetrik).
  3. Infravesikal (distal kandung kemih)
    Yaitu berupa keadaan kaku leher vesika, stenosis meatus uretra, fimosis, batu uretra, trauma uretra, sklerosis leher kandung kemih (bladder neck sclerosis).

Klasifikasi Retensi Urin

Klasifikasi Retensi Urin
healthtap.com

a. Retensi urin akut

Pada penderita retensi urin akut, pasien merasa seakan tidak bisa berkemih (miksi). Kandung kemih pada perut disertai rasa sakit yang sangat pada bagian suprapubik dan keinginan untuk miksi yang hebat disertai mengejan. Sering pula urin keluar sedikit-sedikit atau menetes. Pada kasus pasien yang akut, jika yang menyebabkan lambat ditemukan maka kerusakan lebih parah yang bersifat permanen bisa saja terjadi, sebab otot detrusor atau ganglia parasimpatik di dinding kandung kemih menjadi tidak bisa berkompromi.

b. Retensi urin kronis

Pasien secara pelan-pelan dalam waktu yang lama tidak bisa berkemih (miksi), merasakan nyeri pada daerah suprapubik hanya sedikit atau tidak sama sekali meskipun kandung kemih dalam kondisi  penuh. Pada retensi urin kronik, terdapat masalah khusus akibat peningkatan tekanan intravesikal yang menyebabkan refluks uretra, infeksi saluran kemih atas dan penurunan fungsi ginjal.

Retensi urin juga dapat terjadi sebagian atau total

  • Retensi urin sebagian yaitu penderita masih bisa mengeluarkan urin tetapi terdapat sisa urin yang cukup banyak di dalam kandung kemih.
  • Retensi urin total yaitu penderita sama sekali tidak dapat mengeluarkan urin.

Gambaran klinis Retensi Urin

  • Ketidaknyamanan daerah pubis
  • Distensi vesika urinaria
  • Ketidaksanggupan berkemih
  • Sering berkemih saat vesika urinaria berisi sedikit urin (25 – 50 ml)
  • Ketidakseimbangan jumlah urin yang dikeluarkan dengan asupannya
  • Meningkat keresahan dan keinginan berkemih
  • Adanya urin sebanyak 3000 – 4000 ml dalam kandung kemih.

Pemeriksaan Retensi Urin

Pemeriksaan Retensi Urin
hindustantimes.com
  1. Pemeriksaan subjektif
    Pemeriksaan subjektif dengan mencermati keluhan yang disampaikan oleh pasien dan yang digali melalui anamnesis yang sistematik.
  2. Pemeriksaan objektif
    Pemeriksaan objektif yaitu dengan melakukan pemeriksaan fisik terhadap pasien untuk mencari data-data yang objektif mengenai keadaan pasien.
  3. Pemeriksaan penunjang
    Pemeriksaan penunjang dilakukan dengan mampu memilih berbagai pemeriksaan yang dapat menunjang diagnosis, diantaranya adalah pemeriksaan laboratorium, pencitraan (imaging). Di beberapa keadaan, dibutuhkan pemeriksaan penunjang yang lebih bersifat spesialistik, yitu urolometri atau urodinamika,endourologi, elektromiografi, dan laparoskopi.

Penatalaksanaan Retensi Urin

Penatalaksanaan Retensi Urin
youtube.com

a. Retensi urin akut

Pada pasien dengan retensi akut, terapi segera perlu dilakukan adalah mendrainase kandung kemih. Karena resiko pendarahan kandung kemih, hipotensi, atau drainase pasca obstruktif, dekompresi kandung kemih secara cepat biasanya dihindari. Banyak dijumpai kasus drainase yang dilakukan terus-menerus dengan kateter folley atau kateter intermitten, perlu dilaksanakan hingga fungsi kandung kemih kembali normal, biasanya 48-72 jam.

Pemberian antibiotik juga perlu dipertimbangkan dalam penanganan retensi urin ini.

b. Retensi urin kronik

Pada kasus ini perlu adanya intervensi medis jangka panjang secara langsung mencegah kerusakan ginjal dan mengoreksi penyebab yang mendasari terjadinya retensi urin. Beberapa intervensi terapi spesifik yang dapat dilakukan diantaranya terapi farmakologik, katerisasi, neuromodulasi radiks saraf, dan bahkan intervensi bedah.

Retensi Urin Post Partum

Retensi Urin Post Partum
sumerdoc.blogspot.com

Jenis retensi urin post partum

  • Retensi urin overt (retensi urin akut post partum dengan gejala klinis)
    Merupakan retensi urin post partum yang terlihat secara klinis, terjadi ketidakmampuan berkemih secara spontan pasca proses persalinan.
  • Retensi urin covert (retensi urin post partum tanpa gejala klinis)
    Merupakan retensi urin post partum yang tidak terdeteksi oleh pemeriksa setelah 6 jam post partum.

Penyebab retensi urin post partum

  • Trauma saat persalinan

Retensi urin terjadi karena penekanan di pleksus sakrum yang mengakibatkan terjadinya inhibisi impuls pada bagian terendah janin saat melewati rongga panggul dan bisa dipengaruhi juga oleh posisi oksipito posterior kepala janin. Kandung kemih penuh tetapi tingkat timbul keinginan untuk berkemih tidak ada.

Hal ini disertai dengan distensi yang menghambat saraf reseptor pada dinding kandung kemih. Pada kandung kemih dan uretra, tekanan dari bagian terendah janin terjadi, terutama di area pertemuan keduanya. Tekanan ini mencegah keluarnya urin walaupun ada keinginan untuk berkemih.

  • Refleks kejang (cramp) sfingter uretra

Hal ini terjadi apabila pasien post partum tersebut merasa ketakutan akan timbul perih dan sakit jika urinnya mengenai luka episiotomi sewaktu berkemih. Gangguan ini bersifat sementara.

  • Hipotonia selama masa kehamilan dan masa nifas

Tonus otot-otot (otot detrusor) detrusor vesika urinaria sejak hamil dan post partum terjadi penurunan karena pengaruh hormonal progesteron dan efek relaksan pada serabut-serabut otot polos menyebabkan terjadinya dilatasi, pemanjangan dan penekukan ureter.

Penumpukan urin terjadi dalam ureter bagian bawah dan penurunan tonus kandung kemih dapat menimbulkan pengosongan kandung kemih yang tidak tuntas dan meningkatkan terjadinya infeksi salurah kemih. Pemakaian anastesia regional, contohnya anestesia epidural, blok pudendal sebab obat-obatan tersebut selalu menyebabkan paralisis temporer di saraf-saraf yang mempersarafi kandung kemih.

  • Posisi tidur telentang pada masa intrapartum

Kebanyakan penelitian dilakukan selama kehamilan tua dengan subjek dalam posisi telentang dapat menimbulkan perubahan hemodinamik sistemik yang menyolok, yang menimbulkan perubahan pada beberapa aspek fungsi ginjal. Misalnya aliran urin dan eksresi natrium sangat dipengaruhi oleh postur tubuh. Kecepatan eksresi pada posisi telentang rata-rata kurang dari separuh dibandingkan dengan posisi telentang.

Penanganan retensi urin post partum

Selama periode post partum awal, diuresis nyata akan terjadi pada 1 atau 2 hari pertama pasca melahirkan. Menurut Blackburn & Loper (1992), ibu post partum diharapkan agar bisa segera berkemih 6 – 8 jam pasca persalinan, namun pada kebanyakan ibu terjadi keterlambatan sensasi berkemih, resiko ketidakmampuan berkemih baik parsial maupun komplet yang dapat terjadi akibat trauma persalinan.

Tindakan yang paling sering diambil oleh tenaga kesehatan termasuk bidan pada saat menghadapi masalah kemih ini yakni dengan pemakaian kateter, yaitu suatu tindakan memasukkan selang lateks atau plastik lewat uretra ke dalam kandung kemih. Walaupun sebenarnya menurut Getliffe (2003), tindakan inilah yang mengakibatkan resiko infeksi, sumbatan, dan trauma uretra dan disarankan melakukan penanganan lain dalam kasus ini.

Mengenai hal tersebut, United Kingdom Central Council melaporkan bahwa pentingnya peran dan tanggung jawab bidan melakukan pencatatan. Khususnya bila ibu mengalami kesulitan berkemih (disuria). Dan perlunya tindakan non-invasif sehingga pemakaian kateter bisa diminimalisir sebagai upaya pencegahan terjadinya infeksi.