Pengertian Asam Mefenamat Beserta Penjelasan Secara Lengkap

ASAM MEFENAMAT – Asam mefenamat merupakan obat anti inflamasi nonsteroid (AINS) yang banyak digunakan oleh para pemakai, namun senyawa ini juga memiliki efek samping yang merugikan bila dikonsumsi secara peroral seperti iritasi saluran cerna, mual, diare dan nyeri abdominal sehingga konsumen tidak dapat meneruskan penggunaannya (Siswandono dan Sukarjo, 2000).

Apa itu Asam Mefenamat?

Pengertian Asam Mefenamat Beserta Penjelasan Secara Lengkap
https://ecs7.tokopedia.net

Asam mefenamat merupakan obat anti inflamasi nonsteroid (AINS) yang banyak digunakan oleh para pemakai, berdasarkan hal tersebut dianggap perlu adanya suatu usaha untuk mengembangkan suatu produk yang dapat mengurangi efek samping dari obat dan diharapkan pasien dapat mengunakan obat tersebut tanpa adanya keluhan apapun.

Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan memformulasi obat tersebut dalam bentuk sediaan supositoria.Supositoria merupakan salah satu bentuk sediaan farmasi berbentuk padat yang digunakan melalui dubur, umumnya berbentuk torpedo dan meleleh pada suhu tubuh.

Supositoria sangat berguna bagi pasien dengan kondisi yang tidak memungkinkan dengan terapi obat secara peroral, misalnya pada pasien muntah, mual, tidak sadar, anak-anak, orang tua yang sulit menelan dan selain itu juga dapat menghindari metabolisme obat di hati.

Supositoria

Pengertian Asam Mefenamat Beserta Penjelasan Secara Lengkap
https://1.bp.blogspot.com

Basis supositoria mempunyai peranan penting dalam kecepatan melepaskan obat baik untuk sistemik maupun lokal. Kemungkinan adanya interaksi antara basis disertai zat aktif secara kimia dan atau fisika akan memberikan  pengaruh terhadap 2 stabilitas atau bioavaibilitas dari obat. PEG 400 adalah salah satu jenis bahan pembawa yang juga sering digunakan untuk bahan tambahan dalam suatu formulasi untuk memberikan peningkatan terhadap pelarutan obat yang sukar larut.

1. Supositoria

Supositoria merupakan sediaan padat yang digunakan lewat dubur, umumnya berbentuk torpedo, bisa melarut, melunak  pada suhu tubuh . Supositoria biasanya dimasukan lewat rektum, vagina, kadang-kadang melalui saluran urin dan jarang sekali melalui telinga dan hidung (Ansel, 1989).

Berat supositoria rektal untuk orang dewasa sekitar 2 gram dan lonjong mirip seperti torpedo, biasanya pemberian obat secara rektal adalah setengah atau sampai dua kali atau lebih banyak dari dosis oral yang diberikan untuk semua obat, terkecuali untuk obat yang sangat kuat.

Penentuan rentang dosis tergantung pada avaibilitas obat, terkhusus dalam basis supositoria yang digunakan (Coben dan Lieberman, 1994), sedangkan supositoria untuk anak anak beratnya sekitar 1 gram dan ukurannya lebih kecil.

Dalam pembuatan sediaan supositoria, basis supositoria diharapkan memiliki sifat-sifat sebagai berikut yaitu meleleh pada suhu tubuh, melarut atau terdispersi dalam cairan rektum, tidak bersifat toksik, terutama tidak mengiritasi mukosa rektal.

Memiliki sifat lunak jika diraba, secara fisiologis netral, artinya mempunyai efek terapi bila tidak dimaksudkan untuk pengobatan misalnya sebagai pencahar, dapat mempertahankan konsistensinya pada waktu penyimpanan dan stabil pada waktu penyimpanan.

Pada waktu pembuatan baik dengan cara pelelehan atau cetak tekan dapat berbentuk baik, tidak menempel pada cetakan, dapat campur dengan zat aktif yang ditambahkan. Dapat menyebabkan obat secara homogen bercampur dan tidak adanya sedimentasi. Dalam hal tertentu, mampu menyerap obat dalam larutan air.

Pada penggunaan sistemik harus dapat membebaskan obat dengan cepat dan sebanyak mungkin untuk keperluan absorpsi. Jika dimaksudkan untuk aksi lokal, maka harus membebaskan obat secara lambat agar aksi dari supositoria aksinya lebih lama (Murrukmihadi, 1986).

Maksud utama pemberian supositoria rektal adalah untuk pengobatan konstipasi dan wasir, selain itu supositoria rektal juga diberikan untuk efek sistemik misalnya analgesik, antispasmodinamik, sedatif, obat penenang dan zat antibakteri (Coben dan Lieberman, 1994).

Selain itu, pemberian supositoria rektal dimaksudkan untuk senyawa obat yang diabsorpsi sangat kecil di sistem gastrointestinal (GI), senyawa yang tidak stabil dan tidak aktif oleh pH atau aktivitas enzim dari lambung atau usus (Swarbrick dan Boylan, 2002).

Terapi rektal lebih dipilih dibandingkan bentuk pemakaian lainnya dengan alasan, dalam hal ini dapat disebutkan antara lain cocok untuk pasien yang tidak memungkinkan penggunaaan obat secara oral yang dikarenakan pasien memiliki masalah pada sistem gastrointestinal.

pasien yang muntah, mual, pasien yang tidak memungkinkan menelan obat secara oral serta dapat digunakan pada lansia maupun anak-anak dikarenakan pemakaiannya yang lebih mudah bila dibandingkan penggunaan secara oral (Tukker, 2002).

2. Basis Supositoria

Agar supositoria bisa digunakan secara efektif, tetap menjaga keamanan, basis supositoria harus terpenuhi persyaratannya sebagai berikut :

a. Secara fisiologis netral (tidak menimbulkan rangsangan pada usus : hal ini dapat disebabkan oleh masa yang tidak fisiologis atau tengik, terlalu keras, juga oleh kasarnya bahan obat yang diracik),

b. Secara kimia netral (tidak tak tersatukan dengan bahan obat),

c. Interval yang sangat rendah antara titik lebur dan titik beku (dengan demikian pembekuan masa berlangsung dengan cepat dalam cetakan, kontraksibilitasnya baik, mencegah pendinginan mendadak dalam cetakan),

d. Interval yang rendah antara titik lebur mengalir dengan titik lebur jernih (sangat penting artinya bagi kemantapan bentuk dan juga daya penyimpanan, khususnya pada suhu tinggi),

e. Viskositas yang memadai (mampu mengurangi sedimentasi bahan tersuspensi, tingginya ketepatan takaran),

f. Supositoria sebaiknya melebur dalam beberapa menit pada suhu tubuh atau melarut (persyaratan untuk kerja obat),

g. Pembebasan dan resorpsi obat baik,

h. Daya tahan dan daya penyimpanan yang baik (tanpa ketengikan, perwarnaan, pengerasan, kemantapan bentuk, daya patah yang baik dan stabilitas yang memadai dari bahan obat),

i. Daya serap terhadap cairan lipofil dan hidrofil (Voigt, 1971),